Sabtu, 11 Januari 2014

diare dan muntaber pada balita dan penangannya


Apa Penyebabnya?
Di awal tahun 2014 ini cuaca sangat tidak menentu kadang panas kadang hujan. tentunya virus-virus penyakit banyak menyebar. Dalam bulan-bulan tersebut biasanya ruangan rawat jalan dan rawat inap di Rumah Sakit sering dipenuhi oleh penderita diare yang menyerang anak di bawah usia 5 tahun, Muntaber bisa disebabkan oleh  kuman, bakteri, atau virus. Muntaber juga dapat disebabkan oleh adanya infeksi saluran nafas atau radang tenggorokan,. Infeksi diare pada anak paling sering disebabkan karena infeksi rotavirus. Infeksi diare karena rotavirus ini sering diistilahkan muntaber atau muntah berak. Gejala infeksi rotavirus berupa demam ringan, diawali muntah sering, diare hebat, dan atau nyeri perut. Muntah dan diare merupakan gejala utama infeksi rotavirus dan dapat berlangsung selama 3 – 7 hari. Infeksi rotavirus dapat disertai gejala lain yaitu anak kehilangan nafsu makan, dan tanda-tanda dehidrasi. Infeksi rotavirus dapat menyebabkan dehidrasi ringan dan berat, bahkan kematian.

Bagaimana Tanda dan Gejalanya?

  • Infeksi rotavirus khas mulai sesudah masa inkubasi kurang dari 48 jam dengan demam ringan sampai sedang dan muntah yang disertai dengan mulainya tinja cair yang sering. Karakteristik khas infeksi rotavirus diawali gejala muntah hebat saat awal penyakit sebanyak 5-10 kali bahkan lebih. Kadang disertai demam ringan seringkali masih di bawah 38 Celcius. Pada hari ke dua dan kelima biasanya muntah mereda kadang hanya timbul mual atau muntah sekali-sekali. Pada hari kedua diikuti dengan gejala diare hebat pada hari pertama kadang bisa sampai 5-10 kali. Diare sering berlanjut selama 5-7 hari dengan jumlah diare semakin berangsur berkurang dari hari ke hari. Pada beberapa kasus diare berkepanjangan bila diikuti oleh infeksi saluran napas atas seperti batuk, demam dan pilek. Bisa juga menjadi berkepanjgan bila anak m,engalami alergi makanan dan mengkonsumsi makanan penyebab alergi.
  • Biasanya pada hari pertama dan kedua tinja berwarna seperti telur busuk. Tinja tanpa sel darah merah atau darah putih yang nyata. Dehidrasi mungkin terjadi dan memburuk dengan cepat, terutama pada bayi. Walaupun kebanyakan neonatus yang terinfeksi dengan rotavirus tidak bergejala.
  • Pada bayi dan anak, mula-mula akan menjadi cengeng, gelisah, suhu badan mungkin meningkat, nafsu makan berkurang atau bahkan tidak ada kemudian akan timbul diare. Tinja makin cair mungkin mengandung darah atau lendir, warna tinja berubah menjadi kehijau-hijauan karena bercampur empedu. Karena seringnya defekasi, anus dan sekitarnya lecet karena tinja makin lama menjadi asam akibat banyaknya asam laktat yang terjadi dari pemecahan laktosa yang tidak dapat di absorbsi oleh usus.
  • Bila penderita telah banyak kehilangan air dan elektrolit, terjadilah gejala dehidrasi. Berat badan turun, pada bayi akan terlihat ubun-ubun cekung. Tonus dan turgor kulit berkurang, selaput lendir mulut dan bibir terlihat kering.

Mengapa Kita Perlu Mewaspadai Muntaber?
Bahaya utama dari penyakit muntaber adalah kehilangan cairan yang terlalu cepat, terutama pada anak-anak. Kehilangan cairan yeng berlebihan dapat menyebabkan terjadinya dehidrasi (kekurangan cairan) dan bisa berakibat fatal jika tidak segera diatasi. Muntaber ini jauh lebih berbahaya dibanding jika seseorang hanya menderita diare (mencret) saja atau muntah saja. Apalagi jika muntah dan berak yang dialami lebih dari empat kali dalam sehari dan disertai dengan demam tinggi. Jika tidak segera ditangani, penderita muntaber dapat mengalami syok bahkan kematian.

Bagaimana Mengenali Tanda Dehidrasi?
Ada 3 jenis dehidrasi yang perlu kita ketahui supaya kita tahu sampai sejauh mana tingkat keparahan akibat kekurangan cairan dan supaya cepat mendapat penanganan. Penilaian derajat dehidrasi dilakukan sesuai dengan kriteria berikut ini :
  1. Tidak dehidrasi : keadaan umum baik (masih bisa beraktifitas biasa), rasa hausnya masih normal, air kencing normal, ada air mata, mata tidak cekung, mulut/lidah basah, nafas normal, jika kulit dicubit akan kembali dengan cepat, denyut nadi normal, ubun-ubun normal/tidak cekung (pada anak).
  2. Dehidrasi tidak berat : tampak sakit, mengantuk, lesu, gelisah, rasa hausnya berlebih, air kencing sedikit gelap (keruh), air mata kurang, mata cekung, mulut/lidah kering, nafas agak cepat, jika kulit dicubit akan kembali dengan lambat, denyut nadi agak cepat, ubun-ubun cekung (pada anak).
  3. Dehidrasi berat : sangat mengantuk, tidak sadar, lemah, tidak dapat minum, tidak ada air kencing dalam waktu 6 jam, air mata tidak keluar, mata  kering dan sangat cekung, mulut/lidah sangat kering, nafas cepat dan dalam, jika kulit dicubit akan kembali dengan sangat lambat (lebih dari dua detik), denyut nadi sangat cepat, lemah, dan tidak teraba, ubun-ubun sangat cekung (pada anak).
Bagaimana Cara Mengatasi Dehidrasi?
Usaha pertama untuk menolong penderita adalah dengan memberinya sebanyak mungkin cairan, sebelum dibawa berobat ke dokter atau Rumah Sakit. Selama penderita masih sadar dan dapat minum, berikanlah cairan melalui mulutnya. Selain air, perlu pula dikembalikan garam-garam mineral yang ikut hilang. Untuk itu, penderita sebaiknya juga diberi larutan oralit. Disamping pemberian oralit, makanan dan minuman lain (cairan rumah tangga) harus tetap diberikan. Jika yang terkena muntaber adalah bayi yang masih menyusu ibunya maka ASI (Air Susu Ibu) terus diberikan. Segera bawa ke tempat pelayanan kesehatan terdekat jika sudah muncul tanda-tanda dehidrasi.

Cara Pemberian Obat
  • Secara umum, anak-anak dengan gastroenteritis harus dikembalikan ke diet normal secepat mungkin. Menyusui dini mengurangi durasi penyakit dan meningkatkan hasil gizi.
  • Bayi ASI harus terus menyusui sepanjang fase rehidrasi dan pemeliharaan gastroenteritis akut. Susu formula bayi harus memulai ulang makan dengan kekuatan penuh segera setelah fase rehidrasi selesai (idealnya 2-4 jam). Anak disapih harus dimulai awal dengan cairan normal mereka dan padatan segera setelah fase rehidrasi selesai.
  • Makanan berlemak dan makanan tinggi gula sederhana harus dihindari.
  • Untuk sebagian besar bayi, uji klinis telah menemukan manfaat dari formula bebas laktosa. Demikian pula, diet yang sangat spesifik, seperti BRAT (pisang, nasi, saus apel, dan roti bakar) diet, belum terbukti meningkatkan hasil dan dapat memberikan nutrisi optimal bagi pasien.
  • Pasien diare tidak dianjurkan puasa, kecuali bila muntah-muntah hebat. Pasien justru dianjurkan minum minuman sari buah, teh, minuman tidak bergas, makanan mudah dicerna seperti pisang, nasi, keripik dan sup.
  • Susu sapi dalam keadaan tertentu mungkin harus dihindarkan karena adanya defisiensi laktase transien yang disebabkan oleh infeksi virus dan bakteri. Minuman berkafein dan alkohol harus dihindari karena dapat meningkatkan motalitas dan sekresi usus.
  • Jenis diet yang diindikasikan untuk pasien dengan diare berat adalah Diet Sisa Rendah. Diet sisa rendah adalah makanan yang terdiri dari bahan makanan rendah serat dan hanya sedikit meninggalkan sisa. Yang dimaksud dengan sisa adalah bagian-bagian makanan yang tidak diserap seperti yang terdapat di dalam susu dan produk susu serta daging yang berserat kasar. Di samping itu, makanan lain yang merangsang saluran cerna harus dibatasi.Tujuan Diet Sisa Rendah adalah untuk memberikan makanan sesuai kebutuhan gizi yang sedikit mungkin meninggalkan sisa sehingga dapat membatasi volume feses, dan tidak merangsang saluran cerna.
  • Probiotik. Probiotik adalah suplemen makanan mikroba hidup yang umum digunakan dalam pengobatan dan pencegahan diare akut. Mekanisme yang mungkin aksi termasuk sintesis zat antimikroba, persaingan dengan patogen untuk nutrisi, modifikasi racun, dan stimulasi respon imun nonspesifik terhadap patogen. Dua tinjauan sistematis besar telah menemukan probiotik (terutama GG Lactobacillus) efektif dalam mengurangi durasi diare pada anak-anak yang mengalami gastroenteritis akut .
  • Zinc. WHO merekomendasikan suplementasi seng (10-20 mg / d untuk 10-14 d) untuk semua anak muda dari 5 tahun dengan gastroenteritis akut, meskipun sedikit data ada untuk mendukung rekomendasi ini untuk anak-anak di negara maju.


Bagaimana Cara Memberikan Oralit?
  1. Pilihlah oralit yang sudah dikemas dalam bungkus (sachet) yang dijual di apotik atau toko obat karena selain praktis, komposisinya sudah tepat dibanding jika Anda membuat sendiri larutan air garam dicampur gula.
  2. Baca aturan pakai dan ikuti instruksi yang tertulis dalam kemasan supaya tidak terjadi kesalahan dalam mencampur serbuk oralit dengan air sehingga jumlahnya berlebihan atau justru kurang.
  3. Konsultasikan dengan tenaga kesehatan jika Anda ragu-ragu dalam memberikan oralit.
  4. Oralit diberikan sedikit-sedikit tapi sering supaya tidak semakin merangsang terjadinya muntah.
  5. Jika Anda hendak memberikan oralit pada anak-anak sebaiknya menggunakan sendok dan jangan dengan botol.
  6. Jika terjadi muntah saat pemberian oralit, tunggu dulu 10 menit kemudian lanjutkan pemberian oralit perlahan-lahan.
Bagaimana Cara Mencegah Muntaber?
Ada banyak cara untuk mencegah muntaber, antara lain:
  1. Mengkonsumsi makanan bergizi seimbang dan dalam jumlah yang cukup
  2. Penggunaan air bersih untuk minum
  3. Mencuci tangan sesudah buang air besar dan sebelum makan
  4. Membuang tinja, termasuk tinja bayi pada tempatnya
  5. Menjaga kebersihan jamban keluarga
  6. Menjaga kebersihan rumah, terutama kamar mandi, WC dan dapur
  7. Menjaga kebersihan peralatan makan
  8. Mencuci sayuran, buah, dan bahan makanan sebelum dimasak
  9. Memisahkan perangkat anggota keluarga yang terkena muntaber supaya tidak menular pada yang lain
  10. Jika Anda mempunyai bayi maka berikan ASI eksklusif sampai dengan 6 bulan dan melanjutkan pemberian ASI sampai 2 tahun pertama kehidupan serta sebisa mungkin menghindari penggunaan susu botol.
Penutup
Muntaber merupakan salah satu penyakit yang perlu kita waspadai karena disamping bisa menyebabkan dehidrasi (kekurangan cairan) dengan cepat juga bisa sampai menimbulkan syok dan bahkan kematian jika tidak segera diatasi. Bersikaplah tenang ketika ada anggota keluarga yang mengalami muntaber. Tetap berpikir rasional dan serahkan semuanya pada Allah. Lakukan pertolongan pertama dengan memberikan oralit sebelum dibawa ke tempat pelayanan kesehatan terdekat. Upaya-upaya pencegahan sudah seyogyanya kita upayakan supaya keluarga kita terhindar dari bahaya muntaber dan yang tidak kalah penting, usahakan selalu ada persediaan oralit di kotak obat Anda. Penyakit anak saya berlangsung selama 6 hari dan hari ke-7 anak saya sudah bisa beraktifitas kembali seperti biasa. Jika diare anak ibu tidak kunjung sembuh dalam 5 hari ibu bisa coba obat guanistrem harganya cuma Rp 5000. meskipun murah obat ini juga efektif untuk anak saya. saya juga pernah baca di salah satu artikel bahwa diare itu penyakit yang sembuh sendiri (ada istilahnya sih tp lupa) tanpa memberikan obat anti diare dan pada umumnya diare itu akan sembuh selama 5-7 hari. Jadi kita ngga boleh terlalu panik jika anak kita terserang diare/muntaber.
Pertolongan Pertama pada Muntaber
PERTOLONGAN paling menentukan bagi penderita muntaber adalah pada beberapa jam pertama sejak penderita terserang. Pertolongan pertama amat sederhana dan dapat dilakukan oleh siapa saja dengan bahan-bahan yang sudah tersedia di rumah. Bahan-bahan yang perlu disediakan hanyalah gula pasir, garam dan air masak itu saja. Di setiap rumah atau di warung bahan semacam ini mudah di dapat sebab merupakan kebutuhan yang sering kita gunakan untuk keperluan dapur.

Biasanya kepanikan terjadi jika ada salah satu anggota keluarganya terlihat mengalami gejala muntaber. Jika kita melihat hal itu terjadi, tak perlu panik tetapi segeralah bertindak cepat. Pertolongan pertama dapat dilakukan dengan memberikan larutan gula garam dengan segera begitu terlihat adanya gejala-gejala muntaber agar tidak terjadi dehidrasi. Cara mencampur bahan : larutkan 1 sendok teh gula pasir (4 gram) dan 1 ujung sendok teh garam dapur (1 gram) ke dalam segelas air masak (200 cc).

Begitu penderita mulai terserang berikan 2 atau 3 gelas larutan yang sudah jadi. Setelah itu setiap kali penderita mencret atau muntah berikan 1 gelas lagi. Sementara pertolongan pertama sudah terlaksana bawalah penderita penderita secepatnya ke rumah sakit terdekat. Pemberian larutan hendaknya diteruskan sampai penderita mendapat pertolongan dokter atau medis. Dengan cara sederhana tersebut penggantian cairan tubuh dapat sesegera mungkin diatasi sehingga dehidrasi dapat dihindari.

Pencegahan secara tuntas dari masalah muntaber ini dengan memperbaiki lingkungan sekitar dan air minum. Biasanya muntaber terjadi oleh karena lingkungan yang tidak sehat, kotor, kumuh, lembab dan buruknya kondisi air minum yang dikonsumsi. Sementara lingkungan masih belum sehat, maka penyebarluasan metode pertolongan pertama pada muntaber ini perlu dilaksanakan dengan efektif. Oleh karena itu biasakan hidup sehat dan bersih baik lingkungan atau makanan dan minuman yang kita konsumsi. (pusdat/berbagai sumber)
diare pada balita

Tidak ada komentar:

Posting Komentar