|
Apa
Penyebabnya?
Di awal
tahun 2014 ini cuaca sangat tidak menentu kadang panas kadang hujan. tentunya
virus-virus penyakit banyak menyebar. Dalam bulan-bulan tersebut biasanya
ruangan rawat jalan dan rawat inap di Rumah Sakit sering dipenuhi oleh
penderita diare yang menyerang anak di bawah usia 5 tahun, Muntaber bisa
disebabkan oleh kuman, bakteri, atau virus. Muntaber juga dapat
disebabkan oleh adanya infeksi saluran nafas atau radang tenggorokan,. Infeksi
diare pada anak paling sering disebabkan karena infeksi rotavirus. Infeksi
diare karena rotavirus ini sering diistilahkan muntaber atau muntah berak.
Gejala infeksi rotavirus berupa demam ringan, diawali muntah sering, diare
hebat, dan atau nyeri perut. Muntah dan diare merupakan gejala utama infeksi
rotavirus dan dapat berlangsung selama 3 – 7 hari. Infeksi rotavirus dapat
disertai gejala lain yaitu anak kehilangan nafsu makan, dan tanda-tanda
dehidrasi. Infeksi rotavirus dapat menyebabkan dehidrasi ringan dan berat,
bahkan kematian.
Bagaimana Tanda dan Gejalanya?
- Infeksi
rotavirus khas mulai sesudah masa inkubasi kurang dari 48 jam dengan demam
ringan sampai sedang dan muntah yang disertai dengan mulainya tinja cair
yang sering. Karakteristik khas infeksi rotavirus diawali gejala muntah
hebat saat awal penyakit sebanyak 5-10 kali bahkan lebih. Kadang disertai
demam ringan seringkali masih di bawah 38 Celcius. Pada hari ke dua dan
kelima biasanya muntah mereda kadang hanya timbul mual atau muntah
sekali-sekali. Pada hari kedua diikuti dengan gejala diare hebat pada hari
pertama kadang bisa sampai 5-10 kali. Diare sering berlanjut selama 5-7
hari dengan jumlah diare semakin berangsur berkurang dari hari ke hari.
Pada beberapa kasus diare berkepanjangan bila diikuti oleh infeksi saluran
napas atas seperti batuk, demam dan pilek. Bisa juga menjadi berkepanjgan
bila anak m,engalami alergi makanan dan mengkonsumsi makanan penyebab
alergi.
- Biasanya
pada hari pertama dan kedua tinja berwarna seperti telur busuk. Tinja
tanpa sel darah merah atau darah putih yang nyata. Dehidrasi mungkin
terjadi dan memburuk dengan cepat, terutama pada bayi. Walaupun kebanyakan
neonatus yang terinfeksi dengan rotavirus tidak bergejala.
- Pada
bayi dan anak, mula-mula akan menjadi cengeng, gelisah, suhu badan mungkin
meningkat, nafsu makan berkurang atau bahkan tidak ada kemudian akan
timbul diare. Tinja makin cair mungkin mengandung darah atau lendir, warna
tinja berubah menjadi kehijau-hijauan karena bercampur empedu. Karena
seringnya defekasi, anus dan sekitarnya lecet karena tinja makin lama
menjadi asam akibat banyaknya asam laktat yang terjadi dari pemecahan
laktosa yang tidak dapat di absorbsi oleh usus.
- Bila
penderita telah banyak kehilangan air dan elektrolit, terjadilah gejala
dehidrasi. Berat badan turun, pada bayi akan terlihat ubun-ubun cekung.
Tonus dan turgor kulit berkurang, selaput lendir mulut dan bibir terlihat
kering.
Mengapa
Kita Perlu Mewaspadai Muntaber?
Bahaya utama
dari penyakit muntaber adalah kehilangan cairan yang terlalu cepat, terutama
pada anak-anak. Kehilangan cairan yeng berlebihan dapat menyebabkan terjadinya
dehidrasi (kekurangan cairan) dan bisa berakibat fatal jika tidak segera
diatasi. Muntaber ini jauh lebih berbahaya dibanding jika seseorang hanya
menderita diare (mencret) saja atau muntah saja. Apalagi jika muntah dan berak
yang dialami lebih dari empat kali dalam sehari dan disertai dengan demam
tinggi. Jika tidak segera ditangani, penderita muntaber dapat mengalami syok
bahkan kematian.
Bagaimana
Mengenali Tanda Dehidrasi?
Ada 3 jenis
dehidrasi yang perlu kita ketahui supaya kita tahu sampai sejauh mana tingkat
keparahan akibat kekurangan cairan dan supaya cepat mendapat penanganan.
Penilaian derajat dehidrasi dilakukan sesuai dengan kriteria berikut ini :
- Tidak
dehidrasi : keadaan umum baik (masih bisa beraktifitas biasa), rasa
hausnya masih normal, air kencing normal, ada air mata, mata tidak cekung,
mulut/lidah basah, nafas normal, jika kulit dicubit akan kembali dengan
cepat, denyut nadi normal, ubun-ubun normal/tidak cekung (pada anak).
- Dehidrasi
tidak berat : tampak sakit, mengantuk, lesu, gelisah, rasa hausnya
berlebih, air kencing sedikit gelap (keruh), air mata kurang, mata cekung,
mulut/lidah kering, nafas agak cepat, jika kulit dicubit akan kembali
dengan lambat, denyut nadi agak cepat, ubun-ubun cekung (pada anak).
- Dehidrasi
berat : sangat mengantuk, tidak sadar, lemah, tidak dapat minum, tidak ada
air kencing dalam waktu 6 jam, air mata tidak keluar, mata kering
dan sangat cekung, mulut/lidah sangat kering, nafas cepat dan dalam, jika
kulit dicubit akan kembali dengan sangat lambat (lebih dari dua detik),
denyut nadi sangat cepat, lemah, dan tidak teraba, ubun-ubun sangat cekung
(pada anak).
Bagaimana Cara Mengatasi Dehidrasi?
Usaha
pertama untuk menolong penderita adalah dengan memberinya sebanyak mungkin
cairan, sebelum dibawa berobat ke dokter atau Rumah Sakit. Selama penderita
masih sadar dan dapat minum, berikanlah cairan melalui mulutnya. Selain air,
perlu pula dikembalikan garam-garam mineral yang ikut hilang. Untuk itu,
penderita sebaiknya juga diberi larutan oralit. Disamping pemberian oralit,
makanan dan minuman lain (cairan rumah tangga) harus tetap diberikan. Jika yang
terkena muntaber adalah bayi yang masih menyusu ibunya maka ASI (Air Susu Ibu)
terus diberikan. Segera bawa ke tempat pelayanan kesehatan terdekat jika sudah
muncul tanda-tanda dehidrasi.
Cara Pemberian Obat
- Secara
umum, anak-anak dengan gastroenteritis harus dikembalikan ke diet normal
secepat mungkin. Menyusui dini mengurangi durasi penyakit dan meningkatkan
hasil gizi.
- Bayi
ASI harus terus menyusui sepanjang fase rehidrasi dan pemeliharaan
gastroenteritis akut. Susu formula bayi harus memulai ulang makan dengan
kekuatan penuh segera setelah fase rehidrasi selesai (idealnya 2-4 jam).
Anak disapih harus dimulai awal dengan cairan normal mereka dan padatan
segera setelah fase rehidrasi selesai.
- Makanan
berlemak dan makanan tinggi gula sederhana harus dihindari.
- Untuk
sebagian besar bayi, uji klinis telah menemukan manfaat dari formula bebas
laktosa. Demikian pula, diet yang sangat spesifik, seperti BRAT (pisang,
nasi, saus apel, dan roti bakar) diet, belum terbukti meningkatkan hasil
dan dapat memberikan nutrisi optimal bagi pasien.
- Pasien
diare tidak dianjurkan puasa, kecuali bila muntah-muntah hebat. Pasien
justru dianjurkan minum minuman sari buah, teh, minuman tidak bergas,
makanan mudah dicerna seperti pisang, nasi, keripik dan sup.
- Susu
sapi dalam keadaan tertentu mungkin harus dihindarkan karena adanya
defisiensi laktase transien yang disebabkan oleh infeksi virus dan
bakteri. Minuman berkafein dan alkohol harus dihindari karena dapat
meningkatkan motalitas dan sekresi usus.
- Jenis
diet yang diindikasikan untuk pasien dengan diare berat adalah Diet Sisa
Rendah. Diet sisa rendah adalah makanan yang terdiri dari bahan makanan
rendah serat dan hanya sedikit meninggalkan sisa. Yang dimaksud dengan
sisa adalah bagian-bagian makanan yang tidak diserap seperti yang terdapat
di dalam susu dan produk susu serta daging yang berserat kasar. Di samping
itu, makanan lain yang merangsang saluran cerna harus dibatasi.Tujuan Diet
Sisa Rendah adalah untuk memberikan makanan sesuai kebutuhan gizi yang
sedikit mungkin meninggalkan sisa sehingga dapat membatasi volume feses,
dan tidak merangsang saluran cerna.
- Probiotik. Probiotik adalah suplemen
makanan mikroba hidup yang umum digunakan dalam pengobatan dan pencegahan
diare akut. Mekanisme yang mungkin aksi termasuk sintesis zat antimikroba,
persaingan dengan patogen untuk nutrisi, modifikasi racun, dan stimulasi
respon imun nonspesifik terhadap patogen. Dua tinjauan sistematis besar
telah menemukan probiotik (terutama GG Lactobacillus) efektif dalam
mengurangi durasi diare pada anak-anak yang mengalami gastroenteritis akut
.
- Zinc. WHO merekomendasikan
suplementasi seng (10-20 mg / d untuk 10-14 d) untuk semua anak muda dari
5 tahun dengan gastroenteritis akut, meskipun sedikit data ada untuk
mendukung rekomendasi ini untuk anak-anak di negara maju.
Bagaimana Cara Memberikan Oralit?
- Pilihlah
oralit yang sudah dikemas dalam bungkus (sachet) yang dijual di apotik
atau toko obat karena selain praktis, komposisinya sudah tepat dibanding
jika Anda membuat sendiri larutan air garam dicampur gula.
- Baca
aturan pakai dan ikuti instruksi yang tertulis dalam kemasan supaya tidak
terjadi kesalahan dalam mencampur serbuk oralit dengan air sehingga
jumlahnya berlebihan atau justru kurang.
- Konsultasikan
dengan tenaga kesehatan jika Anda ragu-ragu dalam memberikan oralit.
- Oralit
diberikan sedikit-sedikit tapi sering supaya tidak semakin merangsang
terjadinya muntah.
- Jika
Anda hendak memberikan oralit pada anak-anak sebaiknya menggunakan sendok
dan jangan dengan botol.
- Jika
terjadi muntah saat pemberian oralit, tunggu dulu 10 menit kemudian
lanjutkan pemberian oralit perlahan-lahan.
Bagaimana Cara Mencegah Muntaber?
Ada banyak
cara untuk mencegah muntaber, antara lain:
- Mengkonsumsi
makanan bergizi seimbang dan dalam jumlah yang cukup
- Penggunaan
air bersih untuk minum
- Mencuci
tangan sesudah buang air besar dan sebelum makan
- Membuang
tinja, termasuk tinja bayi pada tempatnya
- Menjaga
kebersihan jamban keluarga
- Menjaga
kebersihan rumah, terutama kamar mandi, WC dan dapur
- Menjaga
kebersihan peralatan makan
- Mencuci
sayuran, buah, dan bahan makanan sebelum dimasak
- Memisahkan
perangkat anggota keluarga yang terkena muntaber supaya tidak menular pada
yang lain
- Jika
Anda mempunyai bayi maka berikan ASI eksklusif sampai dengan 6 bulan dan
melanjutkan pemberian ASI sampai 2 tahun pertama kehidupan serta sebisa
mungkin menghindari penggunaan susu botol.
Penutup
Muntaber
merupakan salah satu penyakit yang perlu kita waspadai karena disamping bisa
menyebabkan dehidrasi (kekurangan cairan) dengan cepat juga bisa sampai
menimbulkan syok dan bahkan kematian jika tidak segera diatasi. Bersikaplah
tenang ketika ada anggota keluarga yang mengalami muntaber. Tetap berpikir
rasional dan serahkan semuanya pada Allah. Lakukan pertolongan pertama dengan
memberikan oralit sebelum dibawa ke tempat pelayanan kesehatan terdekat.
Upaya-upaya pencegahan sudah seyogyanya kita upayakan supaya keluarga kita
terhindar dari bahaya muntaber dan yang tidak kalah penting, usahakan selalu
ada persediaan oralit di kotak obat Anda. Penyakit anak saya berlangsung selama
6 hari dan hari ke-7 anak saya sudah bisa beraktifitas kembali seperti biasa.
Jika diare anak ibu tidak kunjung sembuh dalam 5 hari ibu bisa coba obat
guanistrem harganya cuma Rp 5000. meskipun murah obat ini juga efektif untuk
anak saya. saya juga pernah baca di salah satu artikel bahwa diare itu penyakit
yang sembuh sendiri (ada istilahnya sih tp lupa) tanpa memberikan obat anti
diare dan pada umumnya diare itu akan sembuh selama 5-7 hari. Jadi kita ngga
boleh terlalu panik jika anak kita terserang diare/muntaber.
|
Pertolongan
Pertama pada Muntaber
|
|
PERTOLONGAN
paling menentukan bagi penderita muntaber adalah pada beberapa jam pertama
sejak penderita terserang. Pertolongan pertama amat sederhana dan dapat
dilakukan oleh siapa saja dengan bahan-bahan yang sudah tersedia di rumah.
Bahan-bahan yang perlu disediakan hanyalah gula pasir, garam dan air masak
itu saja. Di setiap rumah atau di warung bahan semacam ini mudah di dapat
sebab merupakan kebutuhan yang sering kita gunakan untuk keperluan dapur.
Biasanya kepanikan terjadi jika ada salah satu anggota keluarganya terlihat
mengalami gejala muntaber. Jika kita melihat hal itu terjadi, tak perlu panik
tetapi segeralah bertindak cepat. Pertolongan pertama dapat dilakukan dengan
memberikan larutan gula garam dengan segera begitu terlihat adanya
gejala-gejala muntaber agar tidak terjadi dehidrasi. Cara mencampur bahan :
larutkan 1 sendok teh gula pasir (4 gram) dan 1 ujung sendok teh garam dapur
(1 gram) ke dalam segelas air masak (200 cc).
Begitu penderita mulai terserang berikan 2 atau 3 gelas larutan yang sudah
jadi. Setelah itu setiap kali penderita mencret atau muntah berikan 1 gelas
lagi. Sementara pertolongan pertama sudah terlaksana bawalah penderita
penderita secepatnya ke rumah sakit terdekat. Pemberian larutan hendaknya
diteruskan sampai penderita mendapat pertolongan dokter atau medis. Dengan
cara sederhana tersebut penggantian cairan tubuh dapat sesegera mungkin
diatasi sehingga dehidrasi dapat dihindari.
Pencegahan secara tuntas dari masalah muntaber ini dengan memperbaiki
lingkungan sekitar dan air minum. Biasanya muntaber terjadi oleh karena
lingkungan yang tidak sehat, kotor, kumuh, lembab dan buruknya kondisi air
minum yang dikonsumsi. Sementara lingkungan masih belum sehat, maka
penyebarluasan metode pertolongan pertama pada muntaber ini perlu
dilaksanakan dengan efektif. Oleh karena itu biasakan hidup sehat dan bersih
baik lingkungan atau makanan dan minuman yang kita konsumsi. (pusdat/berbagai
sumber)
|
diare pada balita |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar